Minggu, 27 Februari 2011

Ilmuwan Tak Luput dari Diskriminasi Seksual


Jakarta - Kini, lebih dari setengah pemilik gelar PhD di dunia ilmiah adalah perempuan, berbanding 13% pada 1970. Sayangnya, perempuan masih kalah dalam publikasi ilmiah.


Sumber



Berdasarkan studi di Nature Neuroscience, Cortex and Journal of Biogeography, tidak ditemukan bukti adanya diskriminasi seksual di ranah ilmu pengetahuan. Ketika posisi perempuan dan pria dibandingkan, tidak ada perbedaan proses publikasi karya ilmiah. Sayangnya, perempuan masih jarang ‘memamerkan’ hasil karya mereka.


Berdasarkan studi tersebut, ada beberapa faktor yang menjadi alasan. Misalnya, perempuan lebih sering bekerja di perguruan tinggi untuk mengajar intesif sehingga kurang memiliki waktu dan sumber daya untuk menghasilkan penelitian berkualitas tinggi untuk dipublikasi.


Di sisi lain, jenis institusi, pendanaan untuk ilmuwan, beban mengajar dan bantuan penelitian tidak memberikan perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Studi menunjukkan faktor kritis bukanlah perbedaan seksual melainkan akses ke sumber daya di mana perempuan mungkin tertinggal di belakang pria.


Isu lain yang sering muncul adalah ilmuwan perempuan lebih sulit mendapatkan dana dibandingkan pria. Studi di jurnal Nature pada 1997 oleh Wenneras dan Wold menemukan lembaga hibah lebih mungkin membiayai pria dibandingkan pria. Penelitian itu menunjukkan 2,5 perempuan harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan dana dari Swedia Medical Research Council pada 1995.


Namun, penelitian itu ditentang berdasarkan isu metodologi dan konseptual karena dianggap bias. Selain itu, studi tentang perempuan yang didanai oleh lembaga hibah Inggris pada 1996 menunjukkan perempuan rata-rata mendapatkan dana untuk 11,2 penelitian ilmiah setiap tahun, pria memiliki 13,8 penelitian.


Sejak 2000, ada sedikit bukti perempuan menghadapi hambatan lebih besar daripada pria. Beberapa studi memang menunjukkan perempuan mendapatkan tawaran jabatan sedikit lebih tinggi daripada pria. Sayangnya, perempuan cenderung membuat pilihan yang berbeda dari pria saat melamar dan menerima pekerjaan.


Sekitar 80% pria dan wanita yang baru lulus kuliah percaya bahwa bekerja penuh waktu sangatlah penting. Namun, saat bekerja, pilihan mereka jauh berbeda. Di Inggris, perempuan hampir dua kali lipat jumlah pria untuk bekerja paruh waktu dalam kurun waktu tertentu. Karenanya, perempuan sering dianggap mudah membuat perubahan keputusan tentang pekerjaannya.


Berdasarkan studi Stephen Ceci dan Wendy Williams dari Cornell University, ada tiga alasan utama yang membuat perempuan tampak berbeda ‘kedudukan’ dari pria yaitu pemilihan karir, pendapat keluarga dan kemampuan untuk menghadapi kondisi berbeda.


Perempuan cenderung memilih karir yang sifatnya membantu orang lain secara langsung misalnya bekerja dengan mengajar. Jumlah pengajar perempuan lebih banyak dari pria. Selanjutnya, gaya hidup dan keinginan berkeluarga lebih besar pada perempuan. Yang terakhir, hanya sedikit perempuan yang berhasil dalam standarisasi matematika, penilaian SAT dan GRE misalnya.


Karenanya, perempuan di ranah ilmu pengetahuan, khususnya bidang yang berhubungan dengan matematika, tampak memiliki kekurangan dalam kebebasan memilih dan dilingkupi lebih banyak kendala. Meskipun, diskriminasi dalam publikasi dan pendanaan tidak berada di posisi utama.


Salah satu cara penyelesaian adalah mensosialisasikan perempuan muda untuk terus berada di dunia ilmiah serta memberikan informasi lebih lanjut tentang peluang karir. Selain itu, sistem pendanaan juga harus diubah dengan memperhatikan kepentingan perempuan yang memiliki keluarga dan anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar